Apa yang ada dalam benak kita ketika hujan?

Apakah itu berarti aktivitas kita jadi terhambat, atau acara malam mingguan jadi amburadul?

Apa yang terbesit dalam pikiran kita ketika harus hidup di ibukota Jakarta yang situasinya padat dan penuh sesak?

Apakah itu berarti segala aktivitas kita harus terhambat di jalanan yang macet, atau itu berarti kita akan berpotensi terjangkit stress berkepanjangan?

Lalu kita lihat para petani yang berpeluh setiap hari di sawah. Apa yang dia rasakan ketika mendadak hujan turun dengan lebat? Apakah dia akan mengeluh atau justru sangat bahagia karena sawahnya terairi oleh hujan?

Kemudian mari kita lihat para pedagang asongan yang menjajakan berbagai barang di jalanan. Mengapa mereka justru memilih hijrah ke ibukota yang padat merayap itu? Oh ternyata mereka senang dengan situasi demikian, karena semakin padat orang maka dagangannya berpeluang untuk semakin laku.

Di satu sisi, hujan memberikan dampak kurang menyenangkan bagi anak-anak muda yang kepingin bermain bersama anak muda lainnya. Di sisi lain ternyata hujan bisa membuahkan senyum bagi para petani di desa. Jadi sebenarnya hujan itu diharapkan atau tidak sih?

Padat merayapnya di Jakarta bisa menyumbangkan sebuah tingkat emosional bagi para karyawan yang selalu diburu waktu dengan mobilitas tinggi. Sedang bagi para pedagang, padatnya Jakarta justru sebuah berkah. Jadi Jakarta yang padat ini menguntungkan atau tidak ya?

Dalam sebuah website 70persen.net terdapat sebuah kutipan yang inspiratif sebagai berikut:

 

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar akan pengaruh sikap dalam kehidupan..

Sikap lebih penting daripada ilmu, daripada uang, daripada kesempatan, daripada kegagalan, daripada keberhasilan, daripada apapun yang mungkin dikatakan atau dilakukan seseorang..

Sikap lebih penting daripada penampilan, karunia, atau keahlian. Hal yang paling menakjubkan adalah kita memiliki pilihan untuk menghasilkan sikap yang kita miliki pada hari itu..

Kita tidak dapat mengubah masa lalu, kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang, kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi..

Satu hal yang dapat kita ubah adalah, satu hal yang dapat kita kontrol, dan itu adalah sikap kita..

Maka saya semakin yakin bahwa hidup adalah kurang dari 30 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita..

Dan lebih dari 70 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya..

 

Jika kita kembali kepada topik hujan di atas, sebenarnya hujan dan padatnya kota Jakarta itu sendiri nilainya sangat kecil. Saking kecilnya maka manusia bisa saja berbeda perasaan, ada yang merasa senang dan ada yang susah. Karena yang perlu diperhatikan bukanlah apa yang terjadi tetapi bagaimana sikap kita terhadap hal itu. Itulah yang akan menjadi kehidupan kita.

Ketika bos kita memarahi kita, sebenarnya itu nilainya sangat kecil kurang dari 30% terhadap keberlangsungan hidup kita. Sikap kitalah yang menentukan bagaimana hidup kita akan berlanjut karena kejadian itu. Kita bisa menyikapi itu berarti kita tidak pantas bekerja di kantor itu sehingga hidup menjadi tidak berarti, atau bisa juga kita menyikapinya sebagai sebuah tantangan yang harus dibuktikan kepada di bos tadi sehingga hidup menjadi bergairah.

Memiliki kulit hitam bukan sebuah akhir dari segalanya. Bagi orang Indonesia mungkin bisa menimbulkan rasa minder tersendiri, bahkan sampai banyak sekali dijual sabun pemutih, mulai dari sabun mandi sampai bayclean. Namun bagi orang barat, justru kulit hitam sangat dicari-cari. Mereka sampai menghabiskan uangnya di musim panas untuk berjemur hanya agar kulitnya hitam. Karena bagi mereka kulit hitam adalah simbolnya orang kaya. Itu berarti kulit hitam nilainya sangat kecil, lebih dari 70% yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Ketika gagal melakukan sesuatu, bisa saja kita menganggap itu sebagai kegagalan. Namun bagi orang-orang besar, tidak ada kata gagal. Yang ada hanya belajar atau berhasil menemukan jalan yang salah.

Para pebisnis yang mengalami kerugian, jika mereka menganggap itu sebagai kerugian niscaya hidupnya akan selalu dalam kegelisahan karena kerugiannya biasanya sampai berpuluh juta. Tapi mereka menganggap itu bukan kerugian puluhan juta. Mereka menganggap bahwa ongkos belajar mereka harganya puluhan juta.

Bahkan uang seratus ribuan kertas yang tergeletak di jalan pun bisa berbeda penafsirannya. Ada yang menganggap itu uang yang menjijikan karena kotor terinjak-injak kaki sehingga tidak mau mengambil. Ada yang menganggap itu uang untuk sesajian makhluk halus, bisa mendatangkan kutukan jika diambil. Namun ada juga yang beranggapan bahwa itu adalah rezeki, jadi ya diambil saja dan dimasukkan masjid untuk sedekah.

Semua itu tergantung sikap kita.

Tidak ada yang salah, dan tidak ada pula aturannya.

Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dampaknya terhadap hidup kita ke depan, apakah membuat kita semakin berdaya atau tidak. Orang sukses selalu menyikapi segala hal yang terjadi dengan sikap yang selalu membuat dirinya positif berdaya. Oleh karena itu jangan sampai kita keliru dalam mengambil sikap.

 

Author: www.dinarmagzz.blogspot.com

 

Tags: