Tulisan ini karya Ws-thok dari kompasiana dengan ijin penulis.

 

Para ayah pencari nafkah, yang menjadi tulang punggung keluarga, yang menjadi kepala keluarga, boleh jadi mempunyai perasaan yang sama tentang sesuatu hal, yaitu kekuatiran tidak bisa memenuhi apa yang menjadi tanggung-jawabnya.

Banyak calon ayah yang merasa perlu menunda atau menyurutkan keinginan menikah karena hal itu. Bayangan tanggung jawab memenuhi pikiran, sementara kemampuan dirasa belum cukup, membuat rasa percaya diri di titik nadir. Jika orang mencoba bertanya, jawabannya hampir standar,: “Emang bini mau dikasih makan batu?!”

Banyak stake holder (customer, konstituen, pemangku kepentingan) yang harus dilayani dan dipuaskan oleh seorang ayah, yaitu: keluarga, perusahaan tempat bekerja, tetangga, kerabat/famili, teman, teman lama, dll. Juga stake holder utama lainnya yaitu “Tuhan” dan “diri sendiri“.

Beberapa stake holder itu adalah jumlah standar minimum yang dimiliki oleh seorang ayah pekerja, ada yang mempunyai lebih banyak lagi, misalnya jika merangkap menjadi pengurus lingkungan (ketua, sekretaris, bendahara RW/RT), pengurus masjid dan jabatan komunitas lainnya. Namun ada juga yang mempunyai lebih sedikit, misalnya yang sudah pensiun, yang anak-anaknya sudah pada hidup mandiri dan tak merangkap jabatan apapun.

Ada juga yang mempunyai stake holder selain tersebut di atas. Mereka mendedikasikan hidup/waktunya untuk kelestarian stake holder yang berupa: hutan, gunung, pantai, jenis flora dan fauna tertentu, dll. Maaf, saya tak hendak membahas lebih lanjut tentang pemilik stake holder jenis ini, karena sifatnya khusus, tak sembarang ayah tertarik atau bisa melakukannya.

Banyaknya stake holder sebetulnya tidak berarti makin sibuk atau repotnya seorang ayah. Para pengusaha atau selebriti yang mempunyai banyak kenalan dan rekanan, bisa mengatasinya dengan mendelegasikan pekerjaan/pelayanan kepada asisten atau tim management pribadinya.

Demikian pula, sedikitnya stake holder tidak berarti lebih melegakan. Seorang ayah yang sudah lama kena PHK, boleh jadi akan kebingungan atau stres, meski jumlah dan kebutuhan keluarganya sedikit.

Jadi, tingkat kesibukan atau kerepotan itu tergantung kebutuhan stake holder dan kemampuan seorang ayah dalam melayaninya.

Keluarga BahagiaSalah satu tanggung jawab utama ayah adalah terhadap keluarga. Umumnya ayah tentu ingin memberikan yang terbaik, memenuhi kebutuhan keluarga dan membuat keluarganya bahagia. Masing-masing keluarga mempunyai jenis kebutuhan dengan kuantitas dan kualitasnya sendiri, yang tentu berbeda dengan keluarga lainnya. Perbedaan kebutuhan itu karena perbedaan jumlah anggota keluarga, latar belakang agama, pendidikan, budaya, dll. Namun pada dasarnya kebutuhan keluarga adalah kebutuhan manusia juga seperti yang dihirarkikan oleh Abraham Maslow.

Peran ayah sebagai kepala keluarga mengharuskan untuk memberi teladan. Di sana-sini masih tampak kekurangannya, namun berniat dan ikhtiar untuk senantiasa memperbaiki diri. Menahan diri tidak berbuat sesuatu yang memalukan keluarga dan bisa ditiru anak-anak serta berusaha terus belajar.

Saat tertentu, para ayah menjadi ‘tukang ojek’ atau ’sopir pribadi’ yang siap mengantar ‘tuan kecil’ kemana suka. Setiap saat siap menjadi layaknya relawan tanggap darurat yang harus cepat mengantar keluarga/tetangga/kerabat yang sakit ke rumah sakit. Saat lain harus rela berlari-larian di terik matahari mengikuti ‘tuan kecil’ yang sedang kesenangan belajar sepeda. Saat lainnya lagi harus siap melaksanakan instruksi istri memperbaiki genteng bocor, got kotor dan mampet, keran rusak, lampu mati, mengusir tikus dan kecoak masuk rumah, dll.

Perusahaan tempat bekerja atau kantor sebagai stake holder diwakili oleh atasan, rekan kerja dan bawahan, juga customer lainnya. Semua unsur itu harus dipuaskan. Tuntutan waktu untuk stake holder ini biasanya paling banyak. Sesuai peraturan pemerintah seminggu sekitar 40 jam, namun nyatanya perlu tambahan waktu yang bisa saja lebih banyak dan dengan menguras tenaga, yaitu untuk perjalanan berangkat dan pulang dari tempat kerja. Belum lagi jika ada tambahan lembur setelah jam kerja atau kerja di hari libur. Sedikit keprihatinan yang dirasakan oleh para ayah, saat berangkat dan pulang kerja menjumpai buah hati masih dalam keadaan tertidur pulas.

Yang perlu diberikan kepada stake holder kantor ini adalah kemampuan kita (soft and hard competencies). Interaksi terhadap stake holder ini sering tak semulus jalan tol. Harus pandai-pandai membawa diri dan berkomunikasi. Sering terjadi ketidak-harmonisan yang berakhir dengan keluarnya karyawan dari perusahaan.

Beban pekerjaan di kantor bisa saja terbawa sampai ke rumah. Seorang ayah bisa menjadi sensitif, mudah marah tanpa anak istri tahu penyebabnya. Ayah yang bijak, tentu berusaha memisahkan beban itu cukup di tempat kerja saja.

Seorang ayah boleh jadi akan tetap bertahan di tempat kerja, meski kondisi sudah tidak nyaman lagi. Jika hanya menimbang ego sendiri, tentu sudah jauh-jauh hari mengundurkan diri. Itu tak dilakukan sebelum mendapatkan kepastian pekerjaan yang lebih baik karena masih menimbang dampak yang akan dirasakan oleh keluarganya. Mental seorang ayah mampu menanggulangi keprihatinan, namun belum tentu dengan anggota keluarga lainnya, terutama anak-anak yang belum mengerti.

Pilihan pekerjaan mengharuskan seorang ayah mengalokasikan lebih banyak waktunya untuk pelayanan atau kemaslahatan orang banyak, misalnya pejabat negara, diplomat, aparat berwajib, tentara, wartawan, dokter, dai, tenaga sukarela, nahkoda dan crew-nya, pilot dan awak pesawat, masinis, sopir, dll. Mereka bisa berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun terpaksa berpisah dengan keluarganya.

Peran sebagai anggota masyarakat yang terlingkupi dalam rukun tetangga dan rukun warga mengharuskan berlaku selaras dengan tetangga sekitarnya. Kehadiran diri sangat diperlukan, tak selalu bisa diwakilkan, misalnya saat ada pertemuan RT/RW, kerja bakti lingkungan, tetangga sakit, kematian tetangga, hajatan tetangga, giliran ronda, dll.

 

Hal yang sering menjadi keberatan, adalah ketika kegiatan lingkungan itu Bersamaan atau berdekatan waktunya dengan kegiatan lainnya, misalnya rapat RT yang diadakan di malam hari setelah pulang kerja, sehingga mau tak mau harus dijalankan dengan mengalahkan rasa capai dan malas.

Alokasi waktu untuk kepentingan sosialisasi dengan tetangga ini biasanya lebih longgar. Tak setiap minggu atau bulan ada kegiatan lingkungan ini. Saya biasanya tiap Sabtu dan Minggu bermain bulutangkis sekitar dua jam sekaligus kesempatan bersosialisasi dengan tetangga. Juga bisa berjumpa dengan sebagian warga yang pergi ke masjid untuk shalat lima waktu berjamaah.

Kerabat/famili yang bertempat tinggal berdekatan atau berlainan kota tetap perlu saling berkomunikasi. Terhadap orangtua dan saudara dekat tentu saja bisa lebih sering bertemu atau berkomunikasi jarak jauh. Minimal setahun sekali bertemu atau setiap ada acara keluarga besar. Kegiatan keluarga ini biasanya akan lebih diprioritaskan, namun jika kita mengalami keadaan darurat, biasanya tetanggalah yang pertama kali dimintai bantuan.

 

Menjadi ganjalan hati ketika tak bisa memenuhi keinginan kerabat dekat yang memerlukan kehadiran kita, karena jarak tempat tinggal yang berjauhan dan waktu yang terbatas. Ingin rasanya menemani ayah yang sendirian di kampung halaman, apa daya pekerjaan masih menuntut waktu lebih banyak.

Terhadap teman komunitas profesi, paling hanya setahun sekali bertemu. Perlu alokasi waktu lagi, ketika teman-teman kelompok haji yang berjumlah 45 orang itu mengajak bertemu dua bulan sekali, selain menjaga silaturahmi juga bisa membangkitkan semangat beribadah ketika sedang anjlok. Teman lama yang biasanya teman masa kecil atau sekolah cukup sekali-kali saja diajak berkomunikasi melalui facebook,handphone atau reuni jika diperlukan. Saya sengaja tak ikut komunitas BB teman-teman sekolah ini, karena kawatir mengecewakan dan kewalahan mengatur waktu jika tiap menit alarm notification berbunyi.

Rasanya tak etis ketika berhitung-hitung alokasi waktu untuk Tuhan. Tuhan yang memberi rahmat waktu/kehidupan kepada kita sudah menetapkan perintah/kewajiban dan larangan. Terhadap kewajiban itu, harusnya manusia melaksanakan sebaik-baiknya sebagai tanda ketakwaan. Memang, terserah para ayah untuk memberi seberapa waktunya kepada Tuhan. Hanya kadang terdengar seolah suara Tuhan: ”Loe udah Gue kasih hidup/waktu, kenapa loe pelit ‘ngliat’ Gue?!”. Iya, kenapa kita pelit, seolah tak ada waktu untuk pergi ke tempat ibadah, untuk menghadapNya?

 

Para ayah yang beragama Islam disunatkan (ada yang mewajibkan, jika tak ada uzur) melakukan shalat berjamaah di masjid setiap shalat lima-waktu. Tiap shalat itu dalam persiapan dan pelaksanaannya bisa memakan waktu setengah jam, berikut shalat sunatnya. Jadi minimal dua setengah jam seharinya. Shalat lain yang perlu waktu adalah shalat-shalat sunat. Shalat tarawih berjamaah bisa memakan waktu satu jam tiap harinya di bulan Ramadhan. Belum alokasi waktu membaca ayat suci Al Quran yang terserah masing-masing individu, boleh jadi jika dirata-rata satu jam seharinya.

Larangan Allah seperti: jangan berzina, mencuri/korupsi, miras, membunuh, berbuat zalim, berjudi, berbuat sirik, dll. praktis tak memerlukan alokasi waktu, cukup dengan pasif saja kita berpotensi menjadi umat yang bertakwa. Namun, banyak orang yang bersedia rugi berkali-kali karena melanggar larangan itu, sudah buang-buang waktu, masih ditambah lagi hukuman di dunia dan balasan di akhirat nanti.

‘Diri sendiri’ sebagai stake holder juga harus diperhatikan dan siap melayani semua stake holder itu. Tubuh harus sehat dan cukup istirahat. Hati harus tenang. Pikiran perlu terus diasah dan ditambah kemampuannya. Namun demikian kita, para ayah ini perlu hiburan juga.

Kata ulama, tubuh adalah ‘kendaraan’ yang membawa ke tujuan. Saya harus merawat tubuh agar bisa melayani semua stake holder itu. Saya perlu teratur makan makanan yang sehat. Saya perlu olahraga secara rutin. Badan saya perlu mandi agar bersih dan wangi (tak terlalu butuh parfum, mengandalkan pakaian yang sudah harum hasil seterikaan istri). Saya terpaksa meninggalkan kebiasaan begadang nonton bola liga Eropa dan ber-Kompasiana hingga larut malam, karena badan saya menjadi lemah kurang istirahat, bahkan sempat sakit masuk rumah sakit. Malah bikin repot stake holder lainnya.

Saya bisa sangat pede menjawab pertanyaan anak-anak tentang pengetahuan umum. Namun giliran tentang pelajaran tertentu, saya bisa jaim, Terpaksa cari alasan macam-macam untuk ngeles, meski setelahnya mencari tahu melalui media apa saja. Rasa malu membuat seorang ayah mau tidak mau harus belajar meningkatkan kemampuan diri. Saya harus mempelajari hal-hal tertentu yang lupa atau di waktu lalu tidak sempat mempelajari.

Kita harus adil terhadap diri kita sendiri, perlu memberi hiburan untuk diri sendiri. Rekreasi bersama keluarga menjadi hiburan kita juga. Hiburan untuk diri sendiri ini bisa berlebihan, sehingga mengabaikan stake holder lainnya. Karena hobi sejak bujangan, maka mancing di laut berhari-hari dengan teman sudah tentu sangat mengasyikkan, tak perduli keluarga dan Imam masjid yang kehilangan salah satu jamaahnya.

***

Meski semua stake holder itu adalah standar minimal dan saya juga bukan orang penting, tetap saja saya sering merasa ‘kewalahan’ mengatur waktu untuk menanganinya dan terpaksa mengorbankan salah satu karena bersamaan jadwalnya. Misalnya akhir-akhir ini banyak undangan pernikahan tetangga dan teman, yang bisa mengalahkan atau menjadwal ulang acara pribadi atau keluarga.

Saya salut kepada para ayah yang berani mengambil tantangan mengumpulkan sebanyak mungkin stake holder dan bisa menanganinya. Mereka mempunyai visi mulia untuk menjadi manusia yang bermanfaat sebanyak-banyaknya. Teman kerja mempunyai penghasilan standar, namun berani mendirikan yayasan yatim piatu di kampung halamannya. Ia masih bisa menyisihkan sebagian waktu dan penghasilannya (dari donatur teman juga) untuk mengelola yayasannya itu.

Memang, ada keinginan pribadi seorang ayah, yaitu aktualisasi diri, ingin meninggalkan ‘nama’/legacy. Banyak cara yang ditempuh sesuai minat-bakatnya, salah satunya adalah dengan ‘menulis‘. Hanya saja para ayah sering lupa, karena keasyikan ‘menulis‘, maka meremehkan dan cenderung mengabaikan kesehatan diri sendiri dan kepentingan stake holder lainnya.

Curhat para ayah ini berpotensi memancing para ibu untuk membuat curhat tandingan. Ini yang saya kawatirkan, karena bila itu terjadi, saya tak siap menghadapi, boleh jadi yang akan dicurhat-kan bisa minimal tiga kali lipat tulisan ini. Akan termuat kata-kata: pakaian kotor, tak ada panas matahari, piring kotor, ngepel, pembantu, memasak, harga sayuran, belanja di pasar, bayar sekolah, ngantar anak sekolah, kursus anak, bayar listrik, cicilan, dll. yang bisa membuat para ayah makin pusing saja. Oleh karena itu, curhat para ayah ini saya dedikasikan…eh…harapkan dibaca oleh sesama ayah saja. Lega rasanya dibaca oleh sesama penyandang masalah, hehehe.

O ya, maafkan jika saya nekat dan lancang tanpa ijin mewakili para ayah bercurhat-ria di sini. Jika pembaca sebagai ayah tidak terima, silahkan curhat sendiri, tapi awas ya, nggak boleh copas tulisan ini. Lucu saja sih, curhat kok copas, jadi kurang ada greget-nya gitu.

Kepada para ayah, mari saling menguatkan dan menyemangati. Kita selalu panjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang pasti mendengar curhat kita ini. “Ya Allah, berilah kemampuan lahir dan batin agar kami bisa memenuhi tanggung jawab sebagai seorang ayah yang baik.  Jauhkan dari rasa kuatir, dekatkan rasa syukur dan sabar. Berilah kesempatan untuk menuntaskan tanggung jawab itu.” Amin! (Depok, 09 September 2013)

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/09/curhat-para-ayah-untuk-para-ayah–588055.html

 

Tags: