PEMBAHARUAN VISI DITJEN PERBENDAHARAAN :

MEWUJUDKAN PENGELOLA PERBENDAHARAAN TINGKAT DUNIA

 

Perkembangan reformasi birokrasi Kementerian Keuangan telah memberikan landasan bagi penguatan peran strategis Ditjen Perbendaharaan sebagai State Treasurer. Penguatan peran tersebut mendorong kontribusi aktif Ditjen Perbendaharaan dalam pembangunan perekonomian Indonesia dengan pembaharuan Visinya yang telah ditetapkan pada tahun 2014. Sesuai Rencana Strategis Ditjen Perbendaharaan Tahun 2015-2019, yang juga tertuang dalam Lampiran Keputusan Menteri Keuangan Nomor 36/ KMK.01/2014 tentang Cetak Biru Program Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan Tahun 2014-2025, Visi Ditjen Perbendaharaan adalah menjadi pengelola perbendaharaan yang unggul di tingkat dunia (to be a world-class treasury manager). Visi yang menantang tersebut memperlihatkan kesiapan Ditjen Perbendaharaan untuk menunjukkan kualitas kinerjanya yang terbaik dan mengawal Kementerian Keuangan mencapai visinya untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif di abad ke-21.

Papulova (2014) menguraikan pengertian umum Visi sebagai suatu pandangan keadaan ideal yang ingin dicapai di masa depan oleh sebuah organisasi. Sedangkan, Misi menjelaskan alasan keberadaan organisasi dan menjelaskan apa yang akan dilakukan organisasi guna mendukung tercapainya tujuan organisasi. Berdasarkan definisi visi di atas, yang perlu digarisbawahi adalah visi merupakan suatu keadan ideal yang kita inginkan, where we want to be, it means we are not there yet.

Dalam manajemen kinerja, Visi Misi dan Tujuan menjadi bagian dari perencanaan strategis organisasi yang kemudian harus diterjemahkan ke dalam eksekusi strategi melalui Sasaran Strategis, Indikator Kinerja Utama, dan Inisiatif Strategis. Sasaran Strategis suatu organisasi tergambar dalam Peta Strategi, yaitu suatu dashboard yang memetakan Sasaran Strategis organisasi dalam suatu kerangka hubungan sebab akibat yang menggambarkan keseluruhan perjalanan strategi organisasi untuk mewujudkan Visi dan Misi. Untuk mewujudkan Visi dan Misinya, sejak tahun 2014 sampai tahun 2017, Ditjen Perbendaharaan telah menetapkan Sasaran Strategis pada Stakeholders Perspective yang sama dengan Visi. Persamaan visi dengan Sasaran Strategis tersebut dilandasi pemikiran bahwa menjadi world-class treasury manager adalah suatu cita-cita yang diharapkan oleh para pemangku kepentingan Ditjen Perbendaharaan.

“…..bahwa menjadi world-class treasury manager adalah suatu cita-cita yang diharapkan oleh para pemangku kepentingan Ditjen Perbendaharaan.”

Dalam proses perwujudan Visi dan Misi Ditjen Perbendaharaan yang dinamis selama kurun waktu 3 tahun terakhir, timbul pertanyaan yang perlu direnungkan dan dijawab oleh pimpinan, perencana strategis dan seluruh insan Ditjen Perbendaharaan, yaitu apakah proses pencapaian Visi Ditjen Perbendaharaan telah berjalan on the right track dan achievable sampai dengan tahun 2019.

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pencapaian Visi organisasi secara kualitatif diantaranya adalah evaluasi pelaksanaan Misi dan pencapaian prestasi yang diperoleh dalam proses perwujudan Visi. Untuk memperkuat apakah proses pencapaian Visi Ditjen Perbendaharaan berjalan secara kredibel dan mumpuni, dapat digunakan indikator lain berupa kerjasama internasional yang telah dilaksanakan oleh Ditjen Perbendaharaan.

Pemetaan terhadap progres pelaksanaan Misi Ditjen Perbendaharaan menjadi langkah pertama untuk mengevaluasi pencapaian Visi Ditjen Perbendaharaan. Pemetaan tersebut selaras dengan salah satu prinsip reinventing government yaitu mission-driven government (Osborne, 1993). Prinsip tersebut menguraikan bahwa organisasi yang kompetitif dan produktif didorong melalui implementasi Misi organisasi yang selaras dengan Visi yang telah ditetapkan. Untuk mencapai Visi-nya, Ditjen Perbendaharaan telah menetapkan 4 (empat) Misi organisasi.

Misi yang pertama yaitu mewujudkan pengelolaan kas dan investasi yang pruden, efisien dan optimal. Kemampuan Ditjen Perbendaharaan dalam mengelola kas merupakan hal yang sangat penting.

Untuk itu Ditjen Perbendaharaan telah menginisiasi agenda-agenda strategis seperti perencanaan kas melalui CPIN (Cash Planning Information Network), ALM (Asset and Liability Management), operasionalisasi TDR (Treasury Dealing Room), memperluas jangkauan TSA (Treasury Single Account), dan implementasi sistem penerimaan negara secara elektronik (MPN G-2), yang seluruhnya berperan dalam optimalisasi pemanfaatan kas yang dimiliki negara.

Misi Ditjen Perbendaharaan yang kedua adalah mendukung kinerja pelaksanaan anggaran yang tepat waktu, efektif, dan akuntabel. Selama ini, Ditjen Perbendaharaan  dihadapkan pada tantangan pencairan dana yang accountable dan timely execution. Setelah pembentukan KPPN Percontohan yang kemudian diterapkan kepada seluruh KPPN pada tahun 2012, Ditjen Perbendaharaan terus melaksanakan program strategis dalam rangka mewujudkan pelaksanaan anggaran yang akuntabel dan tepat waktu, di antaranya adalah proses Sertifikasi ISO 9001:2008 untuk seluruh proses bisnis di KPPN, pembentukan Mobile KPPN dan KPPN Filial, pelaksanaan Kajian Fiskal Regional (KFR) dan Spending Review untuk mereviu Belanja pemerintah baik di tingkat wilayah maupun nasional, dan pelaksanaan transaksi yang IT based.

Misi Ditjen Perbendaharaan ketiga yaitu mewujudkan akuntansi dan pelaporan keuangan negara yang akuntabel, transparan dan tepat waktu.
Dalam pelaksanaan misi ketiga ini, Ditjen Perbendaharaan tidak hanya berfokus pada raihan opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Lebih jauh, Ditjen Perbendaharaan juga berupaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah melalui penerapan akuntansi berbasis akrual serta implementasi Government Finance Statistics (GFS), sehingga informasi akuntansi dan keuangan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia lebih aplikatif dan bermanfaat bagi pihak eksternal.

Misi Ditjen Perbendaharaan yang terakhir adalah mengembangkan kapasitas pendukung sistem perbendaharaan yang andal, profesional, dan modern. Misi ini telah dijalankan melalui implementasi SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara), yang secara revolusioner telah mengubah proses perencanaan dan pelaksanaan anggaran menjadi lebih IT based, untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas transaksi, serta mengurangi kesalahan secara sengaja maupun tidak sengaja yang dilakukan pegawai.

Selanjutnya, metode kedua untuk mengevaluasi pencapaian Visi Ditjen Perbendaharaan adalah dengan melihat pencapaian prestasi yang diperoleh Ditjen Perbendaharaan sebagai indikator keberhasilan perubahan dalam proses perwujudan Visi organisasi. Sejak penetapan Visi sebagai the world-class treasury manager pada tahun 2014, Ditjen Perbendaharaan telah meraih beberapa penghargaan baik di tingkat Kementerian Keuangan maupun tingkat nasional.

Di tingkat Kementerian Keuangan, misalnya, Ditjen Perbendaharaan meraih peringkat pertama dalam penilaian Quality Assurance Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB), Survei Strategy Focused Organization (SFO) dan Reviu Pengelolaan Kinerja. Di tingkat nasional, Ditjen Perbendaharaan mendapatkan penghargaan sebagai The Best 35 pada Lomba Inovasi Layanan Publik tahun 2016 dari Kemenpan RB, terkait Inovasi Dashboard Monitoring MPN G-2, serta pencapaian sebagai organisasi dengan Inisiatif Anti Korupsi Tertinggi tahun 2011 dan 2012 dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Metode berikutnya dalam mengevaluasi pencapaian Visi Ditjen Perbendaharaan sebagai the world-class treasury manager adalah kerja sama internasional yang dilaksanakan Ditjen Perbendaharaan, sebagai program kemitraan yang saling menguntungkan untuk mendukung tujuan kedua belah pihak. Beberapa kerja sama internasional yang dilaksanakan Ditjen Perbendaharaan antara lain Australia Awards untuk program capacity buliding, Australia Indonesia Partnership for Decentralisation (AIPD) dalam rangka reformasi desentralisasi di Indonesia, International Monetary Fund (IMF) untuk capacity building di bidang pelaksanaan Government Finance Statistics (GFS), Public Expenditure Management Network in Asia (PEMNA) sebagai member aktif dan tuan rumah konferensi, The World Bank: dukungan terhadap Integrated Financial Management Information System (IFMIS) di Indonesia dengan bentuk Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN), The Federal Treasury of Russian Federation untuk kerja sama dalam hal peningkatan kapasitas dan kualitas pegawai serta Treasury System antar kedua negara, Asia-Pacific Economic Cooperation untuk Knowledge Sharing, Government Partnership Fund untuk dukungan pelaksanaan Accrual Accounting di Indonesia yang didanai dari pemerintah Australia, dan Korean Development Institute untuk Knowledge Sharing Program/KSP.

“Sinergi dan kinerja organisasi secara optimal dan konsisten melalui dukungan seluruh insan Perbendaharaan akan mendorong pencapaian citacita Ditjen Perbendaharaan di tahun 2019.”

Berdasarkan evaluasi terhadap pencapaian Misi, perolehan prestasi, dan kerja sama internasional yang telah diwujudkan, memberikan gambaran bahwa Ditjen Perbendaharaan masih on the right track dalam upayanya mewujudkan Visi organisasi. Namun demikian, pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah is that good enough to achieve our goal, our Vision? Boon Siong dan Chen (2007) mengungkapkan bahwa prestasi dan pencapaian target yang telah diraih tidak serta merta menjamin organisasi mampu mewujudkan tujuannya. Organisasi memerlukan adanya langkah dinamis melalui penerapan budaya organisasi, kapabilitas, dan inovasi secara berkelanjutan yang mendukung Visi organisasi.

Dalam proses pencapaian Visi Ditjen Perbendaharaan ini, perlu disadari bahwa diperlukan suatu transformasi yang sangat besar, bukan hanya perubahan proses dan pekerjaan rutin keseharian, namun juga mindset seluruh pegawai Ditjen Perbendaharaan untuk bergerak bersama ke arah yang lebih baik. Hesselbein (1999) menyatakan bahwa “Culture does not change because we desire to change it. Culture changes when the organization is transformed; the culture reflects the realities of people working together every day.” Hal tersebut dikarenakan organisasi tidak hanya suatu kumpulan program, namun juga manusia sebagai sumber daya utama yang menjalankan program dan kegiatan organisasi sesuai dengan peran masing-masing. Untuk itu, diperlukan budaya organisasi dan manajemen perubahan (change management) yang kuat untuk memperkokoh posisi sumber daya manusia pada Ditjen Perbendaharaan, serta inovasi yang mendukung keseluruhan tugas dan fungsi organisasi.

Dengan pencapaian Visi dan Misi yang sistematis dan terukur, yang didukung dengan penguatan sumber daya manusia yang handal dan adaptif, serta melakukan inovasi secara berkelanjutan, menjadi satu keyakinan kuat bahwa organisasi Ditjen Perbendaharaan mampu mewujudkan Visi-nya. Oleh karena itu, sinergi dan kinerja organisasi secara optimal dan konsisten melalui dukungan seluruh insan Perbendaharaan akan mendorong pencapaian cita-cita Ditjen Perbendaharaan di tahun 2019.

Teks : Sekretariat DJPBN

 

Tags: , , ,