Oleh : Prof. Firmanzah, PhD, SKP bidang Ekonomi dan Pembangunan

Sumber : http://setkab.go.id/artikel-9902-pidato-kenegaraan-dan-rapbn-2014.html

 

Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono telah menyampaikan pidato Kenegaraan dan RAPBN 2014 di tengah ketidapastian situasi politik dan ekonomi global. Kondisi ini memunculkan apa yang kita sebut sebagai anemic economic growth dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah kondisi global seperti situasi di Timur Tengah, krisis hutang Eropa, krisis keuangan Amerika Serikat, menurunnya kinerja ekonomi Tiongkok-Jepang-India, membuat ekonomi dunia dalam situasi yang tidak menentu. Penting bagi kita semua untuk semakin menyadari bahwa pembangunan ekonomi nasional saat ini sedang berada dalam lngkungan global yang tidak sederhana.

Perkembangan ekonomi global hingga pertengahan 2013 dipandang oleh sejumlah kalangan masih belum mampu memberikan sentiment positif bagi upaya pemulihan global. Pertumbuhan ekonomi di kawasan dan negara, bergerak bervariasi dan scattered seakan tanpa pola. Sebagian ekonom memandangnya sebagai fase pengidentifikasian pola atau keseimbangan yang baru. Hal ini juga tercermin dalam laporan Bank Dunia Juni 2013 yang merevisi target pertumbuhan ekonomi global menjadi 2.2 persen (dari 2.4 persen di bulan Januari 2013). Begitu juga IMF mengoreksi target pertumbuhan ekonomi global menjadi 3.1 persen dari target sebelumnya 3.8 persen (januari 2013).

Bank sentral Eropa beberapa waktu lalu menyampaikan masih sulitnya pemulihan di kawasan dan merevisi target pertumbuhan ekonomi kawasan menjadi minus 0.6 persen dari sebelumnya minus 0.5 persen. Persoalan utang masih menyandera pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Rasio utang terhadap PDB Eropa terus naik mencapai 92.2 persen hingga sampai kuartal I-2013. Di sisi lain kontraksi ekonomi di kawasan Eropa dalam beberapa tahun terakhir telah berimbas pada melonjaknya angka pengangguran akibat gelombang PHK massif di kawasan ini. Angka pengangguran di zona euro mencapai rekor tertingi pada bulan April 2013 sebesar 12.2 persen atau sebanyak 19.8 juta orang.

Sementara itu perkembangan ekonomi Amerika Serikat sedikit lebih baik dibanding Eropa.Pertumbuhan ekonomi AS di kuartal II-2013 tumbuh sebesar 0.4 persen (qoq) atau 1.7 persen (yoy). Membaiknya rilis data tingkat pengangguran AS di bulan Juli sebesar 7.4 persen, atau membaik dibandingkan dengan angka bulan Juni sebesar 7.6 persen telah memberi sentimen positif bagi pemulihan di AS. Hal ini  didorong oleh sejumlah kebijakan yang telah ditempuh AS khususnya pengurangan Quantittative Easing (QE). Namun, rencana ini juga menciptakan gejolak pasar keuangan akibat berkurangnya likuiditas global. Meskipun demikian, Amerika masih berkutat dengan masalah defisit anggaran akibat besarnya alokasi anggran untuk bidang sosial seperti kesehatan, dan  dana pensiun.

Demikian pula pertumbuhan ekonomi Jepang yang relatif melambat di Q2-2013 dan hanya mampu tumbuh sebesar 0.6 persen (qoq) dari kuartal sebelumnya atau lebih rendah dari target 0.9 persen. Begitu pula perutmbuhan kuartal II-2013 dengan basis tahunan hanya bertumbuh  2.6 persen (yoy), lebih rendah dari target 3.8 persen. Peliknya persoalan utang nasional Jepang yang mencapai angka mencapai 1.008,6 triliun yen (10,46 triliun dollar AS) pada 30 Juni, atau naik 1.7 persen dari 3 bulan sebelumnya, dan mencatatkan rasio utang tertinggi di dunia. Beban utang yang mayoritas merupakan utang pemerintah (public) telah menggerogoti ruang fiskal, ekspansi ekonomi menjadi sulit dilakukan, investasi menurun dan kemudian menekan pertumbuhan Jepang.

Tiongkok dan India, yang sebelumnya diharapkan dapat membantu pemulihan global juga mengalami tekanan dan perlambatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat di kuartal II-2013 sebesar 7.5 persen (yoy) dari 7.7 persen pada kuartal I-2013. Tertekannya sektor manufaktur di Tiongkok telah berdampak besar bagi agresifitas ekonomi yang intens dilakukan selama satu dekade terakhir. Semantara India pada kuartal I-2013 hanya mampu mencatatkan pertumbuhan 4.8 persen (yoy) atau yang terburuk dalam 10 tahun terakhir. Tingginya angka inflasi di India dan defisit anggaran telah memberi sentimen negatif bagi pertumbuhan ekonomi India.

Dinamika ekonomi di atas dengan tingkat keterhubungan yang tinggi (interconnectedness) mengancam ekonomi kawasan lain termasuk Indonesia. Tekanan pada sisi permintaan global yang diperburuk oleh terkendalanya pasokan (pelemahan manufaktur, langkanya komoditas strategis) mengkhawatirkan akan tersendatnya upaya pemulihan global dan munculnya risiko-risiko baru lainnya.

Postur RAPBN 2014 yang telah disampaikan Presiden SBY tentunya mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang sedang dihadapi dunia. Meskipun begitu, Indonesia memiliki tingkat daya tahan (resilient) yang memadai ditopang oleh kemajuan yang kita hasilkan selama ini. Pertumbuhan ekonomi 2014 ditargetkan mencapai 6.4 persen dengan tingkat inflasi terjaga di level 4.6 persen. Melalui “keep buying strategy”, Pemerintah akan terus melakukan sejumlah upaya untuk menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Pendapatan yang ditargetkan dalam RAPBN 2014 sebesar Rp1.662,5 dan anggaran belanja negara sebesar Rp1.816,7 triliun, sehingga defisit anggaran dapat ditekan menjadi Rp.154.2 triliun atau hanya 1.49 persen dari PDB diharapkan mampu mendorong perekonomian nasional  lebih ekspansif. Desain kebijakan fiskal yang ekspansif juga dilakukan dengan tetap memperhatikan kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan dan kedisiplinan fiskal diharapkan memiliki adaptabilitas terhadap dinamika global. RAPBN 2014  yang disusun di tengah  kompleksitas dan ketidakpastian global, dirancang dengan mengedepankan langkah-langkah antisipatif menyikapi berbagai perubahan yang berpotensi mengganggu agenda pembangunan nasional.

Dalam RAPBN 2014 juga, Pemerintah terus mengalokasikan insentif fiskal untuk kegiatan ekonomi strategis dan sisi belanja negara melalui pembangunan infrastruktur. Sementara pembiayaan melalui alokasi penyertaan modal negara, dana dan penjaminan serta memanfaatkan utang untuk kegiatan produktif.Untuk menjaga kesinambungan fiskal, Pemerintah dalam RAPBN-2014 menempuh bauran kebijakan: terus menjaga dan mengendalikan defisit dalam batas aman, mengendalikan keseimbangan primer melalui optimalisasi sisi pendapatan negara, memperbaiki struktur belanja agar efisien dan produktif dan meningkatkan efisiensi-efektifitas pengelolaan utang.

Untuk terus mewujudkan kesejahteraan masyarakat, RAPBN 2014 mengalokasikan sejumlah program bantuan sosial  di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Program pengentasan kemiskinan melalui empat klaster juga terus dilanjutkan dan diharapkan dapat mereduksi angka kemiskinan hingga 8-10 persen di akhir 2014. Disamping itu, RAPBN 2014 juga didesain agar dapat mengidentifikasi dan mendorong sumber-sumber pertumbuhann baru yang berbasis sumber daya manusia, industri dan inovasi sehingga diversifikasi pertumbuhan dapat diwujudkan sebagai penopang daya saing nasional. RAPBN 2014 membutuhkan pengawalan oleh seluruh elemen bangsa sehingga target-target pembangunan, percepatan pemerataan pembangunan, peningkatan daya saing bangsa, dan pertumbuhan yang berkeadilan dapat diwujudkan.

 

Tags: